![]() |
| BURUNG ANIS-BENTET SANGIHE (COLLURICINCLA SANGHIRENSIS) |
Burung Anis-bentet Sangihe (Coracornis sanghirensis atau Colluricincla sanghirensis)—yang juga dikenal secara lokal sebagai burung Sohabe sangihe—adalah salah satu spesies burung paling langka dan endemik di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara, Indonesia.
Berikut adalah ringkasan fakta penting mengenai burung Anis-bentet Sangihe:
Status Konservasi Kritis
• Sangat Terancam Punah (Critically Endangered): Burung ini masuk dalam kategori Kritis (CR) berdasarkan Red List IUCN. Tren populasinya terus menurun dan diperkirakan jumlah individu yang tersisa di alam liar hanya berkisar antara 50 hingga 250 ekor saja. [1, 2]
• Status Regulasi: Secara nasional, burung ini sempat menjadi sorotan karena dikeluarkan dari daftar satwa dilindungi melalui revisi regulasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sebuah keputusan yang memicu kekhawatiran besar di kalangan konservasionis mengingat kondisi populasinya yang kritis di alam liar.
Habitat dan Sebaran
• Hanya di Gunung Sahendaruman: Burung ini memiliki wilayah sebaran yang sangat sempit dan kini hanya bisa ditemukan bertahan hidup di kawasan Hutan Lindung Pegunungan Sahendaruman, Pulau Sangihe.
• Ketinggian: Mereka mendiami hutan pegunungan bawah yang lembap, umumnya pada elevasi antara 600 hingga 750 meter di atas permukaan laut. Mereka sangat menyukai area hutan puncak bukit yang memiliki pohon-pohon besar dengan tajuk kanopi yang rapat.
Karakteristik Fisik dan Pakan
• Penampilan: Memiliki ukuran tubuh sedang dengan panjang berkisar sekitar 17 cm dan didominasi oleh warna bulu kecokelatan hingga abu-abu gelap.
• Makanan: Di habitat aslinya, burung ini memakan aneka jenis serangga dan hewan kecil, seperti belalang, jangkrik, kumbang, ulat, cacing tanah, hingga kadal dan kodok kecil.
Ancaman Utama
Kelangsungan hidup Anis-bentet Sangihe berada di ujung tanduk akibat kehilangan dan degradasi habitat. Pembukaan lahan untuk perkebunan, perambahan hutan, serta ancaman aktivitas industri komersial seperti rencana pertambangan di wilayah Sangihe mempersempit ruang hidup satu-satunya yang tersisa bagi spesies ini.

