Lompat ke konten
Beranda » Capaian Pembelajaran TK PAUD Pada Kurikulum Merdeka

Capaian Pembelajaran TK PAUD Pada Kurikulum Merdeka

Capaian Pembelajaran TK PAUD Pada Kurikulum Merdeka (Kurikulum Prototipe / Kurikulum Sekolah Penggerak)

Capaian Pembelajaran TK PAUD Pada Kurikulum Merdeka
(Kurikulum Prototipe / Kurikulum Sekolah Penggerak).
Pemerintah merevisi
Capaian Pembelajaran Kurikulum Sekolah Penggerak setelah secara resmi dilaunching Kurikulum Merdeka untuk jejang TK PAUD
SD SMP SMA SMK Sederajat. Pada Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka nama mata
pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan juga telah diubah menjadi
mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Sekalipun nama mata pelajaran Pendidikan
Pancasila namun muatan kuriklum berisi Pendidikan Pancasila da Pendidikan
Kewaganegaraan. Revisi tertuang dalam Keputusan BSKAP Kemendikbudristek Nomor
008/H/KR/2022 Tentang Capaian Pembelajaran Pada PAUD, Dikdas, Dan Dikmen Pada
Kurikulum Merdeka

 

Berdasarkan lampiran
1 Keputusan BSKAP Kemendikbudristek
Nomor 008/H/Kr/2022 Tentang Capaian Pembelajaran Pada PAUD, Dikdas, Dan Dikmen
Pada Kurikulum Merdeka
, Rasional Capaian Pembelajaran Jenjang TK PAUD pada
Kurikulum Merdeka adalah bawa Penyusunan 
Capaian  Pembelajaran  di 
Pendidikan  Anak  Usia 
Dini (TK/RA/BA,  KB,  SPS, 
TPA) dapat  dimaknai  sebagai 
sebuah  tanggapan terhadap  adanya 
kebutuhan  untuk  menguatkan 
peran  PAUD (TK/RA/BA,  KB, 
SPS,  TPA) sebagai  fondasi 
jenjang  pendidikan  dasar Capaian Pembelajaran merupakan masukan
kurikulum yang digunakan oleh 
satuan  PAUD  (TK/RA/BA, 
KB,  SPS,  TPA) 
dalam  merancang pembelajaran  sehingga 
dapat  mencapai  STPPA. 
Capaian  Pembelajaran memberikan kerangka
pembelajaran yang memandu pendidik di satuan PAUD  (TK/RA/BA, 
KB,  SPS,  TPA) 
dalam  memberikan  stimulasi 
yang dibutuhkan oleh anak usia dini. 

 

Stimulasi  dirancang 
dengan  cara  memperkaya 
lingkungan  yang  akan menyuburkan interaksi  anak 
dengan  lingkungan  di 
sekitar,  termasuk pendidik  dan 
orangtua.  Kurikulum  berdasarkan 
pendekatan konstruktivistik yang berasal dari teori Piaget dan Vygotsky
juga percaya bahwa pembelajaran perlu melibatkan anak dalam interaksi aktif
antara diri dan lingkungannya. Diharapkan proses stimulasi akan memberikan
dampak  yang  optimal 
pada  peningkatan  karakter, 
keterampilan, maupun  pengetahuan  anak. 
Stimulasi  tersebut  dilakukan 
pada  semua aspek  perkembangan 
anak,  baik  dari 
aspek  moral  dan 
agama,  fisik motorik,  emosi 
dan  sosial,  bahasa, 
dan  kognitif  melalui 
kegiatan bermain.  Peran  guru 
dan  orang  tua 
pada  stimulasi  anak 
usia  dini selaras dengan
pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu guru dan orang tua berfungsi  sebagai 
fasilitator,  mentor,  dan 
mitra  anak  dalam 
proses perkembangannya. 
Selanjutnya  guru  perlu 
bekerja  sama  dengan 
orang tua  untuk  memastikan 
keselarasan  antara  pendidikan 
di  satuan  PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) dan di rumah
dalam keseharian anak. 

 

Secara  umum, 
dapat  dikatakan  stimulasi 
bertujuan  agar  anak bertumbuh  kembang 
optimal  secara  holistik 
dan  siap  bersekolah. Diharapkan mereka kelak membentuk
pribadi yang dicita-citakan dalam profil 
pelajar  Pancasila,  yaitu 
sebagai  pelajar  sepanjang 
hayat  yang kompeten,  berkarakter, 
dan  berperilaku  sesuai 
nilai-nilai  Pancasila. Proses
membangun pengetahuan anak terjadi ketika ia sedang bermain dan  berinteraksi 
dengan  lingkungannya  secara 
aktif.  Proses  tersebut berupa  desain 
lingkungan  belajar  yang 
sesuai  dari  satuan 
PAUD (TK/RA/BA,  KB,  SPS, 
TPA)  serta  tantangan 
dan  dukungan  yang diberikan  bagi 
tiap  anak  oleh 
pendidik  untuk  memastikan 
anak memperoleh kemampuan-kemampuan baru. 

 

Bermain  bagi 
anak  usia  dini 
adalah  belajar,  yang 
didukung  dengan masukan  dari 
orang  lain  yang 
lebih  berpengalaman  di 
sekitarnya (pendidik,  orang  tua/wali, 
saudara  yang  lebih 
tua,  dan  sebagainya). Anak bertindak dari perilaku
bermain dan model yang dicontohkan oleh orang 
dewasa  atau  anak-anak 
yang  lebih  tua. 
Mereka  mengajukan pertanyaan  untuk 
belajar  lebih  banyak, 
dan  dapat  dirangsang 
untuk belajar lebih banyak melalui dukungan dari orang dewasa yang
terlibat, atau  anak-anak  yang 
lebih  tua  yang 
menanggapi  minat  anak, menjelaskan berbagai hal, mengajari
mereka kata-kata untuk berbicara tentang 
apa  yang  mereka 
lakukan,  dan  mendorong 
anak  untuk mengeksplorasi lebih
cermat, atau berpikir lebih dalam. Bermain secara alami  dan 
spontan  yang  berasal 
dari  ide-ide  anak 
merupakan  kegiatan belajar  yang 
menyenangkan  yang  dengan 
dukungan  yang  tepat, 
akan mengarah pada pembelajaran yang lebih dalam dan bermakna bagi anak
tentang  diri  mereka 
dan  dunianya.  Melalui 
bermain,  anak-anak
menampilkan  hal-hal  yang 
ia  ketahui  tentang 
dunianya  yang memberikan
kesempatan yang tepat bagi pendidik atau orang tua/wali, untuk menstimulasi
anak mengambil langkah berikutnya, atau mencoba tantangan  berikutnya 
agar  mereka  belajar 
lebih  banyak.  Stimulasi bermain  yang 
berkualitas,  yang  selaras 
dengan  minat  anak 
dan menantang  secara  tepat 
akan  memberikan  kesempatan 
kepada  anak untuk  menunjukkan 
pengenalan  tentang  dirinya 
sebagai  anak Indonesia,  dan 
mendemonstrasikan 
kemampuannya  dalam
mengeksplorasi,  memecahkan  masalah, 
berpikir  dan mengimplementasikan
nilai-nilai Pancasila. Anak tersebut akan memiliki kesadaran  terhadap 
alam  dan  lingkungan, 
serta  tumbuh  dan berkembang  menjadi 
anak  yang  kreatif, 
bugar,  sehat,  serta 
dapat berkomunikasi dan berekspresi dengan bahasa dan seni.

 

Berikut adalah
sejumlah rasional yang mendasari penyusunan Capaian Pembelajaran di jenjang PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) pada
Kurikulum Merdeka
:

 

Pertama,  memberikan 
lebih  banyak  ruang 
kemerdekaan  bagi  satuan PAUD 
(TK/RA/BA,  KB,  SPS, 
TPA)  untuk  menetapkan 
kebutuhan pengajaran  dan  pembelajaran. 
Kebutuhan  belajar  mengajar 
PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) harus didasarkan pada kebutuhan anak. Ini
membutuhkan pertimbangan kemampuan fisik, sosial, moral, linguistik, dan  kognitif 
anak  serta  penyediaan 
berbagai  lingkungan  yang menantang  dengan 
dukungan  pendidik  ke 
tiap  anak  yang 
memadai untuk  memastikan  potensi 
belajar  anak  terwujud. 
Lingkungan  PAUD (TK/RA/BA, KB,
SPS, TPA) perlu ramah dan dekat dengan anak agar ia merasa  cukup 
percaya  diri  untuk 
dapat  bermain  dan 
menjelajah  di dalamnya. Ini
berarti pertimbangan harus diberikan pada konteks sosial dan  budaya 
anak  dan  sumber 
daya  yang  tersedia. 
Orang  tua/wali  juga harus 
dilibatkan  dalam  kegiatan 
PAUD  (TK/RA/BA,  KB, 
SPS,  TPA), sehingga  mereka 
dapat  mendukung  pembelajaran 
anak  tentang  diri mereka 
sendiri  dan  dunia 
mereka  serta  anak 
dapat  memperluas eksplorasi.  Pertimbangan 
juga  harus  diberikan 
pada  sumber  daya ekonomi 
dan  masyarakat  yang 
mungkin tersedia  di  lingkungan 
rumah dan satuan PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) untuk dapat memberikan
dukungan yang memadai.

 

Beragamnya  keadaan 
sosial  budaya  ekonomi 
dan  sumber  daya masyarakat  Indonesia 
adalah  sinyal  bahwa 
penjabaran  mengenai  apa yang perlu dipelajari di satuan PAUD
(TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) harus tetap 
menyediakan  ruang  kemerdekaan 
bagi  satuan  pendidikan 
dan ekosistemnya  untuk  menentukan 
bagaimana  mereka  akan menggunakan  sumber 
dayanya  untuk  mencapai 
tujuan  pembelajaran.

 

Capaian Pembelajaran
PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) pada Kurikulum Merdeka merupakan fase fondasi,
yang artinya fase ini merupakan pijakan pertama anak di dunia pendidikan dan
tujuannya adalah memfasilitasi tumbuh kembang 
anak secara  optimal,  yang 
tidak  hanya  siap 
bersekolah,  namun  lebih 
siap menempuh  perjalanannya  dalam 
berkembang  dan  berperan 
di komunitas,  negara,  dan 
dunia.  Selaras  dengan 
semangat  Standar Tingkat  Pencapaian 
Perkembangan  Anak,  Capaian 
Pembelajaran  tidak
preskriptif  (secara  mengikat 
memberikan  ketentuan  baku) 
membatasi ragam laju dan kebutuhan anak dalam belajar berdasarkan usia
(karena anak  unik  dan 
tidak  dapat  dibandingkan 
satu  dengan  yang 
lainnya) – dan  juga  tidak 
preskriptif  membatasi  rangkaian 
pembelajaran  yang dapat dilakukan
satuan.

 

Kedua, menguatkan
transisi PAUD-SD. Kesinambungan pembelajaran di PAUD  dan 
sekolah  dasar,  adalah 
peran  kunci  mengingat 
periode  anak usia  dini 
sebetulnya  adalah  usia 
0-8  tahun  (Shonkoff 
et  al,  2016). Capaian  Pembelajaran 
Jenjang  PAUD  (TK/RA/BA, 
KB,  SPS,  TPA) pada Kurikulum Merdeka berupaya  untuk 
menempatkan  kurikulum  PAUD 
(TK/RA/BA,  KB,  SPS, TPA) 
dan  sekolah  dasar 
dalam  satu  lajur 
pembelajaran  (learning
progression) sehingga ujung capaian kurikulum adalah titik berangkat di kelas  1 
sekolah  dasar,  dan 
terus  dibangun  hingga 
usainya  fase  A,  di
kelas  2 
sekolah  dasar.  Hal 
ini  yang  diharapkan 
akan  mendukung kesiapan
bersekolah anak dalam rentang usia tersebut. 

 

Kesiapan bersekolah
dimaknai sebagai hadirnya hasil interaksi dari tiga dimensi:  peserta 
didik  yang  siap 
(ready  children),  keluarga 
siap  (ready family),  dan 
sekolah  yang  siap 
(ready  school)  (UNICEF, 
2012).  Sesuai dengan teori
Bronfenbrenner (1979 dan 1989), ketiga dimensi ini berada dalam sebuah
ekosistem besar yang dipengaruhi oleh nilai budaya serta kerangka  kebijakan 
yang  berlaku.  Kesiapan 
bersekolah  merupakan kondisi  yang 
terus  dibangun  berdasarkan 
kemitraan  antara  satuan PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA),
keluarga, sekolah dasar kelas rendah.

 

Komponen  penting 
dari  kesiapan  bersekolah 
yang dapat  didukung satuan PAUD
(TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) diantaranya adalah:

●  Kematangan emosi yang cukup untuk mengatasi
masalahnya sehari-hari.

●  Keterampilan sosial yang memadai untuk
berinteraksi sehat dengan teman sebaya. 

●  Kematangan 
kognitif  yang  cukup 
untuk  berkonsentrasi  saat bermain-belajar.

●  Pengembangan  keterampilan 
motorik  dan  perawatan 
diri  yang memadai  untuk 
dapat  berpartisipasi  di 
lingkungan  sekolah  secara mandiri. 

 

Keterampilan  umum 
ini  dipelajari  di 
lingkungan  dimana  anak-anak memiliki kesempatan untuk
berinteraksi, dimana ada masalah-masalah yang 
perlu  mereka  selesaikan 
ketika  berinteraksi  dengan 
teman. Pendidik  juga  perlu 
siap  mendukung  anak-anak 
untuk  terlibat  secara baik 
dengan  orang  lain, 
menyelesaikan  perselisihan  secara 
konstruktif, dan  mengelola  emosi 
mereka.  Pendidik  juga 
perlu  mengajari  anak 
cara mendengarkan  dengan  cermat, 
dan  memberikan  stimulus 
untuk membangun  konsentrasi  dan 
keterampilan  mengingat  anak 
untuk mendukung kesiapan bersekolah.

 

Ketiga,  menguatkan 
artikulasi  penanaman  literasi, matematika,  sains, teknologi, rekayasa, dan seni sejak di
PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA). Literasi 
dan  matematika  awal 
tersirat  di  dalam 
kurikulum  terdahulu namun  dalam 
pelaksanaannya,  masih  ada 
satuan  yang  menghindari penggunaan  aspek 
pembelajaran  ini  ditengarai 
karena  kekhawatiran terjadinya
schoolification  (anak  belajar 
secara  klasikal  di 
mana  fokus lebih  ke 
muatan  pembelajaran  di 
ruangan  kelas  dalam 
waktu  lama dengan  kertas 
dan  pensil),  sementara 
penting  dalam  pembelajarannya anak  usia 
dini  untuk  mengeksplorasi  diri 
dan  lingkungan.  Pengenalan pada  sains, 
matematika,  teknologi,  rekayasa, 
dan  seni  dihadirkan 
di PAUD  (TK/RA/BA,  KB, 
SPS,  TPA) untuk  membantu 
anak  memecahkan masalah  dan 
berkreasi.  Kemampuan  literasi 
dan  matematika  di 
sini tidaklah diartikan sebagai keharusan membaca, menulis, atau
berhitung karena  semua  pendidikan 
di  PAUD  (TK/RA/BA, 
KB,  SPS,  TPA) kembali pada  prinsip 
berpusat  pada  kebutuhan 
anak.  Artinya,  kemampuan literasi  dan 
matematika  adalah  kemampuan 
dasar  yang  dibutuhkan anak  untuk 
dapat  memahami  dunia, 
serta  dapat  menggunakan kemampuan  tersebut 
dalam  kegiatan  sehari-harinya.  Agar 
anak memiliki  kemampuan  literasi 
dan  matematika  awal 
dalam  makna  yang luas, 
maka  penggunaan  metode drilling yang  secara 
sempit  memaknai kemampuan  ini 
sebagai  kemampuan  baca, 
tulis,  hitung  – 
harus dihindarkan.  Hal  yang 
diperlukan  adalah  pemahaman 
yang  meluas  di satuan 
PAUD  (TK/RA/BA,  KB, 
SPS,  TPA)  dan 
komunitas  orang  tua mengenai perkembangan literasi dini,
matematika awal, sains, teknologi, rekayasa, 
dan  seni  dalam 
PAUD  (TK/RA/BA,  KB, 
SPS,  TPA)  yang mencakup pengembangan: 

●  Kemampuan menyimak dan mengolah informasi.

●  Kemahiran 
berbahasa  yang  memadai 
untuk  berpartisipasi  dalam percakapan  sehari-hari, 
mengekspresikan  gagasan,  pendapat, 
dan perasaan,  menjelaskan  berbagai 
peristiwa  yang  dekat 
dengan kehidupan  anak,  mendengarkan 
secara  efektif,  dan 
merespons dengan tepat.

●  Kecintaan pada buku, yang dipupuk dengan
mendengarkan berbagai cerita  serta  teks 
informasi  sederhana  dan 
menarik  sehingga  dapat mendorong anak untuk mengekspresikan
tanggapan mereka. 

●
 Pengalaman  langsung 
yang  memadai  dalam 
menghitung  di antaranya berbagai
jenis jumlah kecil, menyortir objek yang berbeda dengan cara yang berbeda,
menggunakan bahasa matematika untuk mengidentifikasi  objek 
yang  panjang, pendek,  berat, 
ringan,  penuh, kosong, cepat,
lambat, dan juga untuk menjelaskan beberapa bentuk sederhana di lingkungan
mereka; dan

●  Pengalaman 
yang  cukup  dalam 
mengeksplorasi  berbagai  elemen lingkungan  alam 
mereka  serta  alat-alat 
sederhana,  teknologi  dan bahan konstruksi agar mereka terbiasa dan
mampu menggambarkan pengalaman mereka dan apa yang telah mereka pelajari.

Keterampilan  awal 
ini  dikembangkan  melalui 
kegiatan  belajar-bermain
dengan  tetap  memperhatikan 
keunikan  anak.  Setiap 
anak  memiliki minat yang berbeda
dan tingkat keterampilan yang berbeda, oleh karena itu  pendidik 
perlu  mengenali  dan 
menanggapi  hal  ini. 
Keterampilan keaksaraan  awal  PAUD 
(TK/RA/BA,  KB,  SPS, 
TPA) harus  fokus  pada pengembangan  keterampilan 
bahasa  lisan.  Anak 
perlu  meningkatkan
perbendaharaan  kata  dan 
keterampilan  berbicara  serta 
menyimak, dengan  cara  terlibat 
dalam  percakapan  dengan 
pendidik  dan  orang tua/wali.  Percakapan 
ini  dimaksudkan  untuk 
meningkatkan  kualitas bahasa
lisan reseptif dan ekspresif anak.

 

Demikian pula, untuk
mengembangkan keterampilan matematika 
awal, pendidik  perlu  terlibat 
dalam  percakapan  dengan 
setiap  anak  di 
mana mereka membantu anak untuk memahami dan menggunakan beberapa
ide  dan 
bahasa  matematika  sederhana 
yang  berlaku  dalam 
kegiatan bermain.  Pengalaman  sains, 
teknologi,  dan  kerekayasaan 
yang  sesuai untuk  anak-anak 
di  PAUD  (TK/RA/BA, 
KB,  SPS,  TPA) 
memerlukan penyediaan  materi  untuk 
dimainkan  anak  agar 
dapat  merangsang eksplorasi
mereka. Setiap elemen lingkungan alam yang menjadi bagian dari  PAUD 
(TK/RA/BA, KB,  SPS,  TPA) dapat 
menjadi  stimulus  untuk mendorong  anak 
berpikir  secara  ilmiah. 
Perangkat  mekanis  sederhana yang  dapat 
digunakan  anak  untuk 
bermain  dengan  aman, 
atau  bahan yang  dapat 
digunakan  untuk  konstruksi 
memungkinkan  anak  untuk mengeksplorasi  elemen 
teknologi  dan  kerekayasaan. 
Peran  pendidik, sekali lagi,
untuk terlibat dalam  percakapan empat
mata dengan  setiap anak, setiap hari
mencari tahu apa yang sedang dieksplorasi oleh anak, apa  yang 
membuat  mereka  penasaran 
dan  menanyakan  jenis pertanyaan  yang 
akan  mendorong  anak 
untuk  mengeksplorasi  lebih banyak dan memikirkan tentang hasilnya.

 

Keempat, lebih
memberikan pijakan bagi anak untuk memahami dirinya dan  dunia. 
Hasil  pembelajaran  di 
PAUD  (TK/RA/BA,  KB, 
SPS,  TPA) menekankan  pentingnya 
untuk membantu  anak-anak  memahami 
dan bangga  akan  identitas 
mereka,  dan  untuk 
memperkuat  pemahaman mereka  tentang 
dunia  dimulai  dengan 
menjelajahi  lingkungan
sekitarnya. Anak-anak membutuhkan kepercayaan diri dan kepercayaan pada  kemampuan 
mereka  agar  dapat 
secara  efektif  menjelajahi 
dan belajar  tentang  dunia 
mereka.  Mereka  perlu 
merasa  bangga  terhadap dirinya  sendiri, 
budaya  asal  mereka, 
penampilan  dan  cara 
hidup mereka.  Pendidik  perlu 
mendukung  anak-anak  untuk 
mengembangkan identitas  yang  kuat 
dan  positif  dengan 
menghormati  dan  menyambut masing-masing  keunikan 
anak  serta  latar 
belakang  sosial  dan 
budaya mereka.

 

Relevansi PAUD sangat
ditentukan oleh manfaat yang dirasakan secara konkret  oleh 
keluarga  dan  anak. 
Keluarga  perlu  melihat 
jejak  serta dampak  dari 
partisipasi  anak-anaknya  di 
PAUD  (Smith,  1996), karenanya  tujuan 
dari  setiap  pembelajaran 
perlu  dikaitkan  dengan pengalaman  anak 
sehari-hari  dan  kontekstual 
(selaras  dengan  nilai sosial 
budaya  lingkungan)  sehingga 
menumbuhkan  kesadaran  bahwa dirinya 
adalah  bagian  dari 
lingkungannya  serta  meningkatkan kompetensi  dirinya 
untuk  dapat  berperan 
dalam  kegiatan  sehari-hari. 
Capaian  Pembelajaran  PAUD 
(TK/RA/BA,  KB,  SPS, 
TPA)  secara spesifik  menekankan 
pentingnya  pendampingan  anak 
dalam menemukan  jati  dirinya, 
serta  menguatkan  pemahaman 
anak  terhadap dunianya melalui
eksplorasi terhadap lingkungan sekitar.

 

Tujuan Capaian Pembelajaran (CP) TK PAUD pada pada
Kurikulum Merdeka
.
Pembelajaran di PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) adalah pembelajaran yang  mengintegrasikan  semua 
aspek  perkembangan  anak 
dengan penekanan  pada
kesejahteraannya.  Tujuan  capaian 
pembelajaran  di PAUD (TK/RA/BA,
KB, SPS, TPA) adalah memberikan arah yang sesuai dengan  usia 
perkembangan  anak  pada 
semua  aspek  perkembangan anak  (nilai 
agama-moral,  fisik  motorik, 
emosi-sosial,  bahasa,  dan kognitif) 
dan  menarasikan  kompetensi 
pembelajaran  yang  diharapkan dicapai  anak 
pada  akhir  PAUD 
(TK/RA/BA,  KB,  SPS, 
TPA),  agar  anak siap mengikuti jenjang pendidikan
selanjutnya.

 

Karakteristik
Pembelajaran PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) pada Kurikulum Merdeka. Pembelajaran
di PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) memiliki karakteristik yang  memandang 
setiap  anak  dipandang 
unik  dan  memiliki 
potensi (kelebihan/kekuatan) 
masing-masing  sehingga  memungkinkan 
untuk dikembangkan  lebih  lanjut 
melalui  dalam  lingkungan 
yang  dirancang dengan  cermat 
di  mana  stimulasi bermain  diberikan 
dan  pembelajaran disediakan  oleh 
pendidik.  Scaffolding
(perancah,  dukungan  belajar secara  terstruktur) 
sangat  penting  diberikan 
pendidik  dengan  cara terlibat 
dalam  percakapan  sehari-hari 
dengan  setiap  anak, 
yang  seiring waktu  akan 
memberikan  tantangan,  dukungan 
dan  bimbingan  bagi anak untuk mengembangkan keterampilan
motorik, keterampilan sosial dan 
nilai-nilai  moral,  keterampilan 
bahasa  lisan  dan 
kemampuan  anak untuk secara
produktif memikirkan dan mengeksplorasi lingkungan. 

 

Pembelajaran di PAUD
(TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) pada Kurikulum Merdeka perlu memperhatikan beberapa
karakteristik spesifik yaitu: 1) 
Mendukung terbentuknya kesejahteraan diri (well-being) anak. 2)  Menghargai dan menghormati anak. 3) Mendorong
rasa ingin tahu anak. 4) 
Menyesuaikan  dengan  usia, 
tahap perkembangan,  minat  dan kebutuhan anak. 5)  Memberikan stimulasi secara holistik
integratif. 6)  Memberikan  tantangan, 
bimbingan,  dan  dukungan 
pada pembelajaran tiap anak melalui percakapan dan interaksi bermakna
dengan tiap anak. 7)  Melibatkan keluarga
sebagai mitra. 8) Memanfaatkan lingkungan dan teknologi sebagai sumber belajar.
9) Menggunakan penilaian otentik (penilaian yang diperoleh bersamaan dengan
berlangsungnya proses pembelajaran).

 

Lingkup 
capaian  pembelajaran  di 
PAUD  (TK/RA/BA,  KB, 
SPS,  TPA) pada Kurikulum Merdeka
mencakup  tiga 
elemen  stimulasi  yang 
saling  terintegrasi.  Tiga 
elemen stimulasi  tersebut  merupakan 
elaborasi  aspek-aspek  perkembangan nilai agama dan moral, fisik
motorik, kognitif, sosial emosional, bahasa,  dan nilai Pancasila serta bidang-bidang lain
untuk optimalisasi tumbuh  kembang  anak 
sesuai  dengan  kebutuhan 
pendidikan  abad  21 
dalam konteks  Indonesia.  Tiap 
elemen  stimulasi  mengeksplorasi  aspek-aspek  perkembangan 
secara  utuh  dan 
tidak  terpisah.  Ketiga 
elemen  stimulasi  tersebut 
adalah:  1)  Nilai 
agama  dan  budi 
pekerti,  yang  mencakup kemampuan  dasar-dasar 
agama  dan  akhlak 
mulia;  2)  Jati 
diri mencakup pengenalan jati diri anak Indonesia yang sehat secara  emosi dan sosial dan berlandaskan Pancasila,
serta memiliki kemandirian fisik; 3) 
Dasar-dasar  Literasi,  Matematika, 
Sains,    Teknologi,  Rekayasa,dan Seni  yang 
mencakup  kemampuan  memahami 
berbagai  informasi  dan berkomunikasi  serta 
berpartisipasi dalam kegiatan pramembaca. Setiap  elemen stimulasi harus digunakan sebagai dasar
untuk mengeksplorasi aspek perkembangan anak secara keseluruhan, bukan secara
terpisah. 

 

Rumusan Capaian
Pembelajaran PAUD (TK/RA/BA, KB, SPS, TPA) pada Kurikulum Merdeka. Pada akhir
fase fondasi, anak menunjukkan kegemaran mempraktikkan  dasar-dasar nilai agama dan budi pekerti;
kebanggaan terhadap dirinya; dasar-dasar 
kemampuan  literasi,  matematika, 
sains,  teknologi, rekayasa, dan
seni untuk membangun sikap positif terhadap belajar dan kesiapan untuk
mengikuti pendidikan dasar. Elemen Capaian Pembelajaran

 

1.  Nilai Agama dan Budi Pekerti: 

Anak
percaya  kepada  Tuhan 
Yang  Maha  Esa, 
mulai mengenal dan mempraktikkan 
ajaran  pokok  sesuai 
dengan  agama  dan kepercayaanNya.  Anak 
berpartisipasi  aktif  dalam 
menjaga kebersihan, 
kesehatan  dan  keselamatan 
diri  sebagai  bentuk 
rasa sayang  terhadap  dirinya 
dan  rasa  syukur 
pada  Tuhan  Yang 
Maha Esa.  Anak  menghargai 
sesama  manusia  dengan 
berbagai perbedaannya  dan  mempraktikkan 
perilaku  baik  dan 
berakhlak mulia.  Anak  menghargai 
alam  dengan  cara 
merawatnya  dan menunjukkan  rasa 
sayang  terhadap  makhluk 
hidup  yang merupakan ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa. 

 

2.  Jati Diri:

Anak
mengenali,  mengekspresikan,  dan  mengelola  emosi 
diri  serta membangun  hubungan 
sosial  secara  sehat. 
Anak  mengenal  dan memiliki 
perilaku  positif  terhadap 
diri  dan  lingkungan 
(keluarga, sekolah, 
masyarakat,  negara,  dan 
dunia)  serta  rasa 
bangga  sebagai anak  Indonesia  yang 
berlandaskan  Pancasila.  Anak 
menyesuaikan diri  dengan  lingkungan, 
aturan,  dan  norma 
yang  berlaku.  Anak menggunakan  fungsi 
gerak  (motorik  kasar, 
halus,  dan  taktil) 
untuk mengeksplorasi  dan  memanipulasi 
berbagai  objek  dan 
lingkungan sekitar sebagai bentuk pengembangan diri.

 

3.  Dasar-dasar 
Literasi,  Matematika,  Sains, 
Teknologi,  Rekayasa, dan Seni:

Anak  mengenali 
dan  memahami  berbagai 
informasi, mengomunikasikan perasaan dan pikiran secara lisan, tulisan,
atau menggunakan  berbagai  media 
serta  membangun  percakapan. 
Anak menunjukkan  minat,  kegemaran, 
dan  berpartisipasi  dalam 
kegiatan pramembaca  dan  pramenulis. 
Anak  mengenali  dan 
menggunakan konsep 
pramatematika  untuk  memecahkan 
masalah  di  dalam kehidupan  sehari-hari. 
Anak  menunjukkan  kemampuan 
dasar berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.  Anak menunjukkan rasa ingin tahu  melalui 
observasi,  eksplorasi,  dan 
eksperimen  dengan menggunakan
lingkungan sekitar dan media sebagai sumber belajar, untuk  mendapatkan 
gagasan  mengenai  fenomena 
alam  dan  sosial. Anak menunjukkan kemampuan awal
menggunakan dan merekayasa teknologi serta untuk mencari informasi, gagasan,
dan keterampilan secara aman dan bertanggung jawab. Anak mengeksplorasi berbagai
proses seni, mengekspresikannya serta mengapresiasi karya seni.

 

Untuk mengetahui
secara lengkap Capaian Pembelajaran TK PAUD
Pada Kurikulum Merdeka (Kurikulum Prototipe / Kurikulum Sekolah Penggerak),
silahkan
download dan baca Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, Dan Asesmen
Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Nomor 008/H/Kr/2022 Tentang Capaian
Pembelajaran Pada PAUD, DIKDAS, dan DIKMEN Pada Kurikulum Merdeka (Kurikulum
Prototipe / Kurikulum Sekolah Penggerak) melalui salinan dokumen yang eterdapat
di bawah ini

 

Link download Keputusan BSKAP Kemendikbudristek Nomor 008/H/Kr/2022 Tentang Capaian
Pembelajaran Pada PAUD, Dikdas, Dan Dikmen Pada Kurikulum Merdeka
(DISINI)

 

Demikian informasi
tentang Capaian Pembelajaran TK PAUD Pada
Kurikulum Merdeka (Kurikulum Prototipe / Kurikulum Sekolah Penggerak)
.
Semoga ada manfaatnya. Dapat berita dan informasi terbaru lainnya melalui laman
ainamulyana.info


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

= Baca Juga =

var homeUrl3 = “https://www.guruberkarya.com/”;
var maxNumberOfPostsPerLabel = 100;
var maxNumberOfLabels = 100;
maxNumberOfPostsPerLabel = 100;
maxNumberOfLabels = 100;

function listEntries10(json) {
var ul = document.createElement(‘ul’);
var maxPosts = (json.feed.entry.length <= maxNumberOfPostsPerLabel) ?
json.feed.entry.length : maxNumberOfPostsPerLabel;
for (var i = 0; i < maxPosts; i++) {
var entry = json.feed.entry[i];
var alturl;
for (var k = 0; k < entry.link.length; k++) {
if (entry.link[k].rel == 'alternate') {
alturl = entry.link[k].href;
break;
}
}
var li = document.createElement('li');
var a = document.createElement('a');
a.href = alturl;
if(a.href!=location.href) {
var txt = document.createTextNode(entry.title.$t);
a.appendChild(txt);
li.appendChild(a);
ul.appendChild(li);
}
}
for (var l = 0; l < json.feed.link.length; l++) {
if (json.feed.link[l].rel == 'alternate') {
var raw = json.feed.link[l].href;
var label = raw.substr(homeUrl3.length+13);
var k;
for (k=0; k<20; k++) label = label.replace("%40", " ");
var txt = document.createTextNode(label);

var h = document.createElement('b');
var div1 = document.createElement('div');
div1.appendChild(h);
div1.appendChild(ul);
document.getElementById('data2007').appendChild(div1);
}
}
}
function search10(query, label) {
var script = document.createElement('script');
script.setAttribute('src', query + 'feeds/posts/default/-/'
+ label +
'?alt=json-in-script&callback=listEntries10');
script.setAttribute('type', 'text/javascript');
document.documentElement.firstChild.appendChild(script);
}
var labelArray = new Array();
var numLabel = 0;
textLabel = "Berita";
var test = 0;
for (var i = 0; i < labelArray.length; i++)
if (labelArray[i] == textLabel) test = 1;
if (test == 0) {
labelArray.push(textLabel);
var maxLabels = (labelArray.length <= maxNumberOfLabels) ?
labelArray.length : maxNumberOfLabels;
if (numLabel < maxLabels) {
search10(homeUrl3, textLabel);
numLabel++;
}
}